Referensi Utama - Buku Rohani Katolik - Katolik
Welcome to Our Web
Cari
 
 
PRODUK PROMO
 
Kategori Buku
 Anak-anak (4)
 Apologetika (5)
 Devosi (20)
 Doa (10)
 Katekese (39)
 Keluarga / Perkawinan (4)
 Kisah Inspirasional (12)
 Kisah Nyata (7)
 Kitab Suci (10)
 Novel (4)
 Orang Suci (10)
 Pelajaran Sekolah (1)
 Psikologi (1)
 Refleksi (9)
 Renungan (18)
 Spiritualitas (6)
 Teologi (6)
Customer Support
J. Hamdani Gunawan
J. Hamdani Gunawan

021 - 91915191

   
formulabisnis.com/?id=idebisnis
 
blogbisnisinternet.com/?id=bisnispribadi
 
pedulikeluarga.com
 
Pooling
Bagaimana menurut Anda minat membaca orang Katolik terhadap buku-buku rohani ?
Sangat Baik
Baik
Biasa Saja
Kurang

Lihat Hasil
38.107.191.88

USER ONLINE
6
TOTAL VISITOR
134259
 

Sehubungan dengan Libur Hari Raya Idul Fitri dimana Jasa Kurir menjalani masa libur, maka kami tidak melakukan pengiriman mulai 07 - 15 Sept 2010. Harap Maklum. Tuhan Memberkati.

 
Jalan Berliku Menuju Roma


Sekilas mengenai saya

 

 

Yesus, Bethlehem dan Salib menggema di hatiku

Pada waktu itu, aku sedang belajar untuk menghadapi ulangan di kelas 2 atau 3 SD. Aku membaca sebuah buku pelajaran Pendidikan Moral Pancasila, yang di dalamnya dijelaskan lima agama yang diakui secara resmi di Indonesia. Ketika aku sampai pada bagian agama Kristen, tentu saja mataku, untuk pertama kalinya, menjumpai dua kata, yang dengan segera begitu senang kuucapkan. Kata yang pertama adalah Yesus Kristus, yang digambarkan sebagai pendiri agama tersebut, dan yang kedua adalah Betlehem, tempat kelahiran-Nya. Selama hari-hari berikutnya, aku begitu gemar mengucapkan kedua kata itu, hanya karena aku suka dengan bunyinya. Namun, orangtua dan kakak sulungku menyuruhku untuk tidak lagi melakukannya. Mereka pikir tidak ada gunanya aku menghapal kata-kata itu, karena pasti tidak akan keluar di ulangan – dan ternyata mereka benar! Jadi, aku pun tidak lagi mengucapkan kata-kata itu, sampai suatu peristiwa ketika aku remaja membangkitkan kembali kegemaranku untuk mengucapkan kedua kata itu, yang selama ini terabaikan, namun belum sepenuhnya terlupakan.

Suatu malam, ketika aku berumur sekitar 15 tahun, pada bulan Desember menjelang Natal, aku menonton sebuah acara musik di TV. Aku lupa persisnya apakah itu di awal, di tengah-tengah, atau di akhir acara, ada sebuah lagu rohani (Kristen), yang dinyanyikan oleh seorang penyanyi dan pencipta lagu terkenal di era 80-an. Namun anehnya, lagu itu tidak bercerita tentang kisah Natal, melainkan tentang peristiwa penyaliban. Salah satu syair dalam lagu itu, yang sampai saat ini masih begitu lekat dalam ingatanku, berbunyi seperti ini: “Kau rela disalibkan untuk kita.” Syair ini menyentak pikiranku ketika itu, karena, sejauh yang kupahami, tidak ada unsur kerelaan dalam peristiwa penyaliban Yesus. Yang biasanya diajarkan (kepada anak-anak usia sekolah) dalam kepercayaanku dulu tentang penyaliban, adalah bahwa Yesus melarikan diri ketika orang-orang mencoba menyalibkan Dia. Lalu ketika Ia terpojok di suatu tempat, dan tidak bisa lari lagi, Allah mengangkat-Nya ke surga, dan orang-orang yang mengejar-Nya menangkap dan menyalibkan orang lain yang mereka kira, dan yang oleh Allah telah dibuat menyerupai, Yesus.

Seusai acara musik itu, aku tetap bertanya-tanya di dalam hati mengapa Yesus Kristus, yang kelahiran-Nya di Betlehem sedang diperingati ini, rela disalibkan, apa untungnya itu bagi Dia, dan apa hubungannya dengan kita yang hidup pada masa sekarang. Pencarianku untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini menuntunku pada buku-buku yang mungkin saja menyediakan jawabannya, lalu pergi ke gereja-gereja, dan bertanya kepada orang-orang Kristen yang, sangkaku, dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Perjalananku untuk menemukan Yesus

Jadi, selama masa SMA, aku pun mulai memberanikan diri untuk pergi ke gereja, kendati dengan keraguan dan ketakutan yang kurasakan ketika pertama kali berniat untuk melakukannya. Di dekat tempat tinggalku, ada tiga gereja: Gereja Pentakosta, Gereja Protestan (Persatuan Gereja Indonesia), dan Gereja Katolik. Karena beberapa alasan yang tidak bisa dijelaskan, aku memilih pergi ke Gereja Katolik, yang terletak paling jauh dari rumahku; mungkin salah satu alasannya adalah karena aku takut ketahuan keluarga kalau aku pergi ke gereja yang terlalu dekat dengan rumahku. Lalu setelah itu aku mulai membeli barang-barang “Kristiani,” seperti kalung salib, kaset-kaset rohani, dan bahkan meminjam Alkitab dari tetangga Katolik yang baru saja pindah ke lingkunganku. Namun tak lama kemudian, semua barang tersebut ketahuan oleh orangtuaku, dan mereka bertanya mengapa aku menyimpan benda-benda seperti itu. Sebagai remaja, aku tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu dengan tepat, dan pada akhirnya aku tidak membuka mulut sedikit pun untuk memberikan jawaban. Selain itu, aku memang tidak tahu jawaban untuk pertanyaan itu. Aku hanya tertarik pada hal-hal yang berkaitan dengan Yesus, tetapi aku tidak tahu kenapa.

Setelah “interogasi” ini, hal berikutnya yang kutahu adalah bahwa semua barang “Kristiani” yang telah kubeli, dan kupinjam, kini lenyap, dan aku pun tidak lagi pergi ke gereja selama beberapa waktu. Namun, ini tidak berlangsung lama, sebab beberapa bulan kemudian, berangkat dari keinginan untuk memuaskan kerinduan rohani, pada hari Minggu pagi aku pergi diam-diam untuk pergi ke gereja (Katolik) lagi, meskipun kali ini aku hanya melakukannya kadang-kadang. Kebiasaan ini terus berlanjut sampai aku pergi ke Bandung untuk kuliah.

Untuk menyingkat cerita panjang, keputusanku menjadi Katolik tidaklah dibuat karena aku terburu-buru menentukan (karena dibutuhkan waktu sekitar 12 tahun bagiku untuk sampai pada keputusan itu), atau karena aku menganggap remeh perbedaan-perbedaan doktrin yang ada antara Gereja-gereja Protestan, dan Gereja Katolik. Atau, karena menganggap remeh perbedaan-perbedaan doktrin itu, maka aku mengambil jalan mudahnya saja, yaitu memilih gereja yang “tampak” bernilai historis, Gereja Katolik.

Sebagai seorang yang berlatar belakang non-Nasrani, yang tidak tahu apa-apa tentang perbedaan antara Gereja Protestan dan Gereja Katolik, (dan bahkan masih belum tahu meskipun kemudian aku menganut iman Kristen selama beberapa tahun), aku ingin menjadi bagian dari Gereja Katolik. Dan Gereja Katoliklah yang benar-benar kukunjungi untuk pertama kali. Tetapi karena waktu kuliah di Bandung aku kebetulan bertemu dengan banyak orang Protestan (Karismatik) yang semangatnya “menyala-nyala” untuk Allah, lalu berteman dengan mereka, dan tidak melihat alasan mengapa aku harus membedakan mereka dari orang-orang Katolik, maka aku pun pergi ke gereja-gereja mereka, dan juga banyak membahas masalah-masalah kekristenan dengan mereka.

Namun, ketika beberapa tahun kemudian aku kehilangan kontak dengan mereka, aku pun mulai mencari sebuah gereja internasional di Bandung, lalu menemukannya. Tak lama kemudian aku segera terlibat dalam satu dua pelayanan, dibaptis di gereja itu, dan bahkan akhirnya bekerja untuk beberapa yayasan asing (Protestan) di Bandung dan lalu di Jakarta.

Film Martin Luther membuka mata hatiku kepada Gereja Katolik

Tetapi situasi ini segera berubah ketika pada suatu malam (pada bulan Oktober 2005), dengan mengikuti ajakan dari bosku di tempat kerja, aku melihat film “Luther” di rumah seorang pendeta dari Australia; ia adalah pendeta dari salah satu gereja internasional di Jakarta Selatan yang rutin kukunjungi setiap minggu pada waktu itu. Ketika sedang melihat film itu, dan sesudahnya, tiba-tiba aku tersadar bahwa di dalam kekristenan ada dua pilihan utama, yaitu Katolikisme dan Protestantisme, dan bahwa aku harus menentukan pilihanku sendiri.

Istilah “kekristenan” yang kabur, yang kepercayaannya kusangka sudah kupeluk, tidaklah mengandung satu kesatuan ajaran yang utuh; banyak orang yang menyebut diri sebagai orang Kristen sering kali mempercayai banyak hal, yang kadang-kadang mendukung, namun sering juga menentang, satu sama lain. Dan untuk pertama kalinya aku tersadar bahwa di antara mereka terdapat “ketidaksepakatan yang serius,” yang tidak boleh kuanggap enteng.
Di dalam film itu, ada seorang uskup, aku lupa siapa tepatnya, yang berkata bahwa Alkitab itu terlalu dalam untuk dipahami oleh orang biasa. Ucapan ini, menurutku, mungkin sengaja dibuat oleh produser film, atau siapa pun yang terlibat di dalamnya, berdasarkan alasan-alasan tertentu, sebagai suatu serangan terhadap ajaran Katolik mengenai Alkitab. Tetapi ucapan itu terus menggema dalam pikiranku. Setelah film itu berakhir, si pendeta membuka diskusi tentang film yang baru saja kami saksikan, namun tidak seorang pun langsung menanggapinya – hanya kemudian ada orang Amerika yang memberikan komentar ringan bahwa semua orang yang hadir di situ bekerja di tempat yang sama – maka aku pun memutuskan untuk mengetengahkan apa yang diucapkan oleh uskup tadi.

Kukutip lagi kata-kata dari sang uskup itu – bahwa Alkitab terlalu dalam untuk dipahami oleh orang biasa – dan kutanyakan kepada mereka apakah itu sebabnya di dalam Protestantisme ada begitu banyak denominasi, yang masing-masing menganggap benar kelompok sendiri, sebagai akibat dari cara mereka menafsirkan Alkitab secara pribadi? Semua pun tersentak diam selama sekitar 30 detik, sampai akhirnya bosku, orang Jerman, yang mengajakku menonton film ini, berkata bahwa memang ada banyak ajaran yang berbeda di dalam Protestantisme, tetapi bahwa perbedaan-perbedaan itu hanya bersifat sekunder, dan sama sekali tidak mempengaruhi baik iman kepercayaan maupun keselamatan. Semua orang tampak lega dengan usulan ini, dan mereka pun mengangguk-anggukkan kepala sebagai tanda setuju. Namun, aku tetap tidak yakin, meskipun aku cukup puas dengan jawaban tersebut pada saat itu. Tetapi ini sama sekali tidak menghalang-halangiku untuk mencari jawabannya sendiri; dan selanjutnya aku mengerti bahwa perkataan bosku itu sesungguhnya lebih tepat diterapkan kepada Gereja Katolik daripada gereja-gereja Protestan.

Perjalananku menuju ke Roma

Aku pun mulai membaca profil agama Katolik di situs Wikipedia, dan dari situ aku mendapat banyak situs Katolik sebagai rujukan, salah satunya, yang paling sering kukunjungi waktu itu, adalah Catholic Answers. Selain itu, aku juga menggunakan Catholic Encyclopedia dari situs New Advent sebagai sumber utama untuk mengetahui sudut pandang Katolik tentang berbagai hal, dan, tentu saja, aku pun mengunduh The Catechism of the Catholic Church dari situs Vatikan. Di samping itu, aku juga mulai membaca beberapa tulisan dari para teolog Katolik, terutama John Henry (Kardinal) Newman dan G.K. Chesterton, dua orang berkebangsaan Inggris, yang banyak membantuku memahami ajaran-ajaran Katolik dalam hubungannya dengan Protestantisme, dan yang semakin meneguhkan niatku untuk diterima di dalam Gereja Katolik; Newman dengan Essay on the Development of Christian Doctrine, dan Chesterton dengan The Catholic Church and Conversion.

Akhirnya, aku diterima di dalam Gereja Katolik pada bulan Desember 2006 menjelang Natal, di Paroki Santo Stefanus, Cilandak, Jakarta Selatan. Aku menjadi Katolik karena alasan bahwa, setelah banyak berdoa dan mempelajari isu-isu mengenai Protestantisme dan Katolikisme, aku benar-benar tidak dapat (lagi) berpegang pada panji-panji utama Protestantisme, yaitu sola scriptura, sola fide, dan sola gratia. Dan, sebagai akibatnya, aku pun harus masuk sepenuhnya ke dalam persekutuan dengan Gereja Katolik, Gereja yang selama ini kuinginkan tanpa sepenuhnya kusadari, dan Gereja yang cara pewartaannya menggugah keinginan di dalam batinku dulu sewaktu aku masih kecil, dan masih sampai saat ini. Panggilan itu terus menggema di hatiku, yaitu untuk lebih mengenal Tuhan yang diwartakan oleh Gereja Katolik dengan lebih dalam lagi.

Harapanku adalah bahwa dengan adanya siapa saja yang masuk, atau kembali, kepada pangkuan Gereja Katolik, maka itu akan membangkitkan minat dan penghargaan terhadap Gereja Katolik. Semoga kesaksian perjalanan iman seperti yang kualami ini dapat memberikan ‘kesegaran’ bagi anggota-anggota Gereja yang sudah lama terlelap dan tenggelam dalam rutinitas ibadah, dan akan memberikan keyakinan serta penghiburan bagi umatNya yang setia, yang pada saat ini mungkin tengah mengalami godaan, baik dari pihak dalam maupun pihak luar, untuk meragukan kepercayaan mereka terhadap ajaran-ajaran Gereja. Sebab sungguh ajaran Gereja Katolik benar-benar diterima dari Yesus Tuhan, dan dengan setia diteruskan oleh para rasulNya, dan dengan hati-hati dijaga oleh para penganutNya. Gereja ini secara perkasa akan terus dilindungi sampai akhir zaman oleh Roh Kudus, yang dengan bimbinganNya, dan dengan menuruti perintah Tuhan, akan terus dengan penuh semangat dan kebijaksanaan mewartakan kebenaran sampai ke ujung-ujung bumi !.

Aku bersyukur, bahwa Tuhan membawaku masuk dalam pangkuan Gereja Katolik, walaupun melalui perjalanan panjang dan berliku. Di sinilah ‘rumahku’, yang akan menghantarkanku kepada Tuhan yang telah lama dan senantiasa kurindukan. Betapa aku berdoa agar semakin banyak orang mengalami pengalaman kasih Tuhan, yang penuh dan melimpah dicurahkan dalam Gereja Katolik….

Penulis, T.A. Herdian, tinggal di Jakarta, bekerja sebagai penerjemah, dan sedang mengikuti program matrikulasi S2 di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.

Kesaksian ini diambil dari www.katolisitas.org

 

Pada 13 April 1978 aku dilahirkan di sebuah kota kecil, Indramayu, di Jawa Barat. Aku anak ketiga dari empat bersaudara. Delapan belas tahun pertama kehidupanku kuhabiskan di kota kelahiranku, lalu aku pergi ke Bandung untuk melanjutkan studi.

Aku tumbuh dari keluarga non-Nasrani yang “biasa-biasa saja,” dalam arti bahwa, karena nenek moyang kami beragama non-Nasrani, maka, mau tidak mau, kami pun memeluk agama yang sama, tanpa harus mengetahui alasan-alasannya, atau mempermasalahkan benar-tidaknya kepercayaan yang kami anut. Perjalananku memeluk iman Kristiani adalah sebuah perjalanan iman yang panjang, dan tidak selalu kusadari, sebuah proses yang, sejauh ingatanku, sudah dimulai sejak aku berumur enam atau tujuh tahun.

 
Minggu, 05 Sep 2010
Login Member
   
Email
Password
 

| Registrasi
| Lupa Password

Jumlah Member : 209
10 Member Terakhir :
LUKAS, FAISAL, ARRY, CANDRA, IRWAN, DAVIED, FAOT, HETTY, CHICHA, TEDDY,
Info & Berita
PAUS : Setan-setan Masih Terus Bekerja
Release: 11 Dec 09

Roma, Selasa -  Paus Benediktus XVI, Selasa (8/12) di Roma, mengatakan, berita tentang setan semakin banyak beredar.

Paus Kukuhkan Lima Orang Kudus
Release: 13 Oct 09

Paus Benediktus XVI mengukuhkan lima orang Kudus baru, termasuk seorang Pastor Belgia, Josef De Veuster, yang hidup bersama dengan para pasien kusta di kepulauan terpencil di Hawaii pada abad 19.

Paus: Segera Akhiri Perang
Release: 14 Apr 09

Paus Benediktus XVI memberikan berkat Paskah untuk dunia dari atas balkon Santo Petrus, Vatikan, Minggu (12/4), yang dihadiri oleh ribuan warga yang berkumpul di halaman Santo Petrus.


Saran dan Komentar
ANTONIUS GREGORIUS SUGIRI KURNIA
BukuKatolik.com mmg referensinya orang Katolik, tapi saya juga mau tanya apa di sana jual Alkitab bilingual Indonesia-Inggris dan Indonesia-Mandarin? Saya sudah mencari di toko buku Gramedia dll tapi yang tersedia yang tak ada Deuterokanokika. Bgm, ada tidak? Trimakasih.
[26 Mar 10 , 11 : 52 AM ]
 
PAULUS AGUS DWITANTO
bukukatolik.com , Menambah wawasan keimanan saya terhadap YESUS.
[08 Oct 09 , 10 : 05 AM ]
 
 
 
 
Web www.bukukatolik.com
www.BukuKatolik.com
Jati Bening Estate Blok D 8 No. 17, Bekasi 17412
Telp : 021-91915191 Fax :
Email : admin@bukukatolik.com

Resolusi Optimal 1024 x 768 pixel, Browser Internet Explorer
BukuKatolik.com - Buku Rohani Katolik - Ajaran Iman Katolik